GARUT – Kasus pengeroyokan yang melibatkan berandalan bermotor di Kecamatan Tarogong Kaler mengungkap fakta mengejutkan. Dari 25 orang yang diduga terlibat, sebanyak 23 di antaranya masih berstatus anak di bawah umur dan pelajar.
Bahkan, pelaku termuda diketahui baru berusia 13 tahun dan masih duduk di bangku SMP. Sementara dua orang lainnya berusia 18 tahun.
Kapolres Garut, AKBP Niko N. Adi Putra, mengatakan hingga Jumat (7/8/2026), polisi telah mengamankan 22 orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan terhadap enam pemuda.
Baca Juga:PNM Peduli Perkuat Fasilitas Pesantren Lewat Renovasi Masjid Annajatul FaizinPNM Peduli Salurkan Mushaf Al-Qur’an untuk Penguatan Pendidikan Santri
“Sat Reskrim Polres Garut telah berhasil mengamankan 22 dari 25 pelaku pengeroyokan. 3 di antaranya masih buron dan sedang kami lakukan pengejaran,” ujar Niko kepada wartawan.
Menurut Niko, sebagian besar anggota kelompok tersebut berasal dari sejumlah sekolah tingkat SMP dan SMA di Kabupaten Garut.
“Yang paling muda berusia 13 tahun. Masih SMP. Mereka berasal dari beberapa SMP dan SMA yang ada di Garut. Mohon maaf tidak bisa saya sampaikan (identitas sekolahnya),” katanya.
Kronologi Terjadinya Pengeroyokan
Diketahui, peristiwa pengeroyokan itu terjadi di Jalan KH. Anwar Musaddad, Kecamatan Tarogong Kaler, Minggu (2/8/2026) dini hari.
Enam pemuda yang saat itu sedang berkumpul di pinggir jalan tiba-tiba didatangi sekelompok pengendara sepeda motor.
Aksi penyerangan tersebut sempat terekam kamera pengawas dan videonya kemudian beredar luas di media sosial.
Dalam rekaman, kelompok bermotor terlihat datang secara bergerombol sebelum menyerang para korban. Sejumlah anggota kelompok juga terlihat membawa benda yang diduga senjata.
Baca Juga:Polisi dan Leles Lestari Foundation Dorong Kemandirian Petani lewat Program JagungMahasiswa Unpad Jalani KKN di Leuwigoong, Fokus pada Bidang Sosial dan Pendidikan
“Barudak mana sia. Balik… balik,” ungkap salah satu dari kelompok berandalan.
Berdasarkan hasil penyelidikan polisi, kelompok tersebut mengatasnamakan diri sebagai geng PAP atau Pool Anjing Pool.
Sebelum penyerangan terjadi, mereka disebut sedang melakukan konvoi menggunakan sepeda motor pada malam tersebut.
Ketika melintasi lokasi, rombongan bertemu enam pemuda yang sedang berkumpul. Sebagian kendaraan kelompok tersebut menggunakan knalpot bising.
Salah seorang korban kemudian melontarkan teguran terhadap rombongan.
“Korban berkata, maaf, gandeng sia (berisik kamu) kepada rombongan tersebut,” ucap Niko.
Ucapan tersebut diduga memicu emosi anggota kelompok. Rombongan kemudian berbalik arah dan mendatangi para korban.
