Minimnya kebutuhan perawatan tersebut membuat biaya produksi menjadi lebih rendah dibandingkan banyak komoditas pertanian lainnya. Kondisi ini tentu menjadi keuntungan tersendiri bagi petani karena dapat meningkatkan margin keuntungan yang diperoleh dari hasil panen.
Selain memanfaatkan daunnya sebagai bahan baku industri pengganti tembakau, bagian umbi talas beneng juga memiliki nilai jual. Umbi tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk pangan sehingga memberikan peluang tambahan pendapatan bagi petani.
Cepi menambahkan, aspek pemasaran menjadi salah satu faktor yang membuat budidaya talas beneng semakin menarik. Saat ini sudah terdapat perusahaan yang siap menampung hasil panen petani sehingga risiko kesulitan pemasaran relatif lebih kecil.
Baca Juga:Mobil Damkar Siram Guru dan Murid dalam Acara Perpisahan SDN 3 CipareuanPertandingan Bola Voli Liga Desa di Leuwigoong Diserbu Penonton
Bahkan, menurutnya, perusahaan tersebut siap menjalin kerja sama kemitraan dengan petani melalui sistem kontrak untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku.
Di sisi lain, potensi ekonomi yang ditawarkan talas beneng juga mulai menarik perhatian pemerintah desa dan pengelola BUMDes. BUMDes Bangkit Mekarsari, misalnya, saat ini tengah melakukan penjajakan dan survei lokasi untuk menyiapkan lahan budidaya.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mencari sumber pendapatan baru yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi desa sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar.
Dengan potensi omzet yang menjanjikan, masa panen yang panjang, biaya perawatan yang rendah, serta adanya kepastian pasar, talas beneng dinilai memiliki prospek cerah untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan baru di Kabupaten Garut. Jika dikelola secara optimal, tanaman ini berpotensi menjadi salah satu sumber peningkatan pendapatan petani sekaligus penggerak ekonomi desa. (Feri Citra Burama)
