Mengenal Euis Rohayati, Pedagang Tahu yang Jadi Polisi TB

Mengenal Euis Rohayati, Pedagang Tahu yang Jadi Polisi TB
Euis Rohayati, karena kegigihannya mengajak penderita TB berobat, dia dijuluki Polisi TB (Iqbal Gojali)
0 Komentar

Kondisi tersebut pun dikuatkan dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang kurang bersih karena berada di kawasan yang padat penduduk.

Jika melihat pekerjaan para penderita sendiri diketahui mulai dari buruh pasar, sopir angkot, pedagang kecil, hingga pengangguran.

“Namun memang secara umum penyebabnya adalah lingkungan yang kumuh ditambah pemahaman tentang kebersihan yang sangat kurang,” jelasnya.

Baca Juga:Jual PSK Lewat Medsos, AJ Dibekuk PolisiHasil Muskercab PCNU Garut, KH. Amin Muhyiddin Jabat Rois Syuriah, KH. Atjeng Abdul Wahid Ketua Tanfidiyah

Kepedulian terhadap TB saat ini sendiri di kalangan masyarakat, menurutnya sangat minim, padahal ia menyebut hal itu lebih bahaya dari HIV. Pernyataan Euis tersebut ia lontarkan karena penularannya bisa langsung kepada 10 hingga 15 orang.

Yang terjadi kemudian, disebut Euis adalah adanya anggapan bahwa TB adalah penyakit biasa. Namun meski demikian, ia mengaku tidak pernah merasa lelah untuk terus mencari mereka walau harus melakukan berbagai cara untuk merubah pandangan tersebut.

Euis bercerita bahwa ia pernah harus melakukan pendekatan selama tiga tahun kepada penderita TB agar mau berobat. Pola pendekatan pun tidak hanya secara langsung saja, tetapi juga melalui keluarga, tetangga, bahkan ketua RT dan RW.

“ Ya memang pendekatan kepada penderita TB ini tidak mudah. Kalau saya kasih tahu malah dibilang so tahu dan malah memarahi. Tetapi sekarang Alhamdulillah banyak yang mengerti bahkan tidak sedikit orang yang menyebut saya polisi TB karena seringnya mencari dan mengajak juga mengantar warga untuk berobat TB,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kabupaten Garut sendiri diketahui merupakan salah satu kabupaten dengan target penemuan kasus TB yang cukup tinggi di Jawa Barat. Penemuan kasus TB masih belum mencapai target dari estimasi penderita TB sekita 8.033 kasus per tahun.

Penemuan kasus TB sejak 2015 hingga 2018 cenderung meningkat. Tahun 2015 ditemukan 2.559 kasus. Jumlah itu meningkat menjadi 2.727 kasus pada 2016. Sedangkan pada 2017 ada 3.170 kasus TB. Di 2018 ada sedikit penurunan kasus menjadi 3.079 kasus. Pada tahun 2019 dari estimasi penderita 5.845 orang, baru ditemukan 3.662 orang.

Selama ia bergerak mencari hingga mengantar penderita TB, Euis mengaku tidak pernah dibayar oleh pemerintah. Namun ia menyebut bahwa ada salah satu lembaga dari luar negeri yang ikut membantunya dengan memberikan Rp 30 ribu setiap menemukan penderita positif TB.

0 Komentar