GARUT – Potensi erupsi Gunung Guntur menjadi salah satu ancaman serius yang diwaspadai Pemerintah Kabupaten Garut sepanjang tahun 2026. Selain aktivitas vulkanik, sejumlah jenis bencana lain juga masih mengintai seiring tingginya intensitas hujan dan kondisi cuaca ekstrem.
Situasi tersebut membuat Pemkab Garut hingga Mei 2026 masih menetapkan status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Garut, Nurdin Yana mengatakan tingginya potensi bencana menjadi dasar pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapan anggaran melalui pos Belanja Tidak Terduga (BTT) dalam APBD 2026.
Baca Juga:Sekda Garut sebut APBD Harusnya Bisa Diakses PublikPemkab Garut Apresiasi PMI Garut yang Turut Tangani Bencana Nasional
Untuk tahun ini, Pemkab Garut mengalokasikan anggaran BTT sebesar Rp22,5 miliar, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp20 miliar.
“Tahun 2026 kita siapkan Rp22,5 miliar, naik dari tahun lalu yang Rp20 miliar,” ujar Nurdin.
Ia berharap anggaran tersebut mampu mencukupi kebutuhan penanganan bencana dan kondisi darurat, mengingat wilayah Garut memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi.
Nurdin menambahkan, apabila terjadi kekurangan anggaran, Pemkab Garut tidak akan bekerja sendiri. Pemerintah provinsi maupun pusat biasanya akan memberikan dukungan tambahan.
“Biasanya ada bantuan dari provinsi dan pusat jika kebutuhan penanganan bencana meningkat,” katanya.
Menurutnya, penggunaan BTT diprioritaskan untuk kebutuhan mendesak, terutama penyelamatan warga dan penanganan darurat saat bencana terjadi.
“Tujuan utamanya untuk meminimalisir dampak terhadap keselamatan jiwa dan kerugian materi,” tegasnya.
Baca Juga:Pedagang Pasar Tradisional di Garut Tergerus Online, Disperindag Siapkan Langkah AntisipasiProgram Prioritas Dipastikan Tetap Berjalan Meski Dana Transfer Terpangkas
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut, Aah Anwar Saepuloh menyebutkan pihaknya terus memantau potensi erupsi Gunung Guntur. Ia menjelaskan, sejumlah permukiman warga, kawasan wisata, bahkan pusat pemerintahan berada cukup dekat dengan zona rawan dampak erupsi.
“Jika terjadi erupsi, dampaknya bisa meluas karena banyak aktivitas masyarakat berada di kawasan rawan,” ujarnya, Senin (19/1/2026).
Selain ancaman erupsi, BPBD Garut juga mengantisipasi potensi bencana lain seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor yang hampir merata di seluruh wilayah Garut.
Ancaman tsunami megathrust juga menjadi perhatian, mengingat panjang garis pantai selatan Garut mencapai sekitar 80 kilometer yang berada di zona rawan gempa subduksi.
Aah menambahkan, BPBD Garut telah melakukan pemetaan risiko untuk setiap jenis bencana sebagai langkah mitigasi.
