oleh

Bendera Putih PHRI Diturunkan Setelah Islah dengan Bupati dan Buat Nota Kesepahaman

GARUT – Setelah ramainya pemberitaan terkait sebaran bendera putih dengan emoticon menangis yang kemudian dikibarkan di sejumlah hotel dan restoran yang tergabung dalam Persatuan Hotel dan Restauran Indonesia Garut (PHRI) Garut akhirnya mendapat tanggapan dari Bupati Garut Rudy Gunawan, kamis (22/7).

Para pengusaha hotel dan restoran Garut yang ada di bawah naungan PHRI melakukan pertemuan dengan Bupati Garut Rudy Gunawan di Hotel Rancabango dan Resort Garut.

Rudy mengungkapkan Dalam pertemuan tersebut, Rudy merasa bangga atas apa yang dilakukan para pengelola hotel dan restoran di PHRI Garut, kendati itu merupakan suatu simbol aksi protes dengan cara menaikkan bendera Putih Emotion menangis.

“Saya merasakan kekecewaan yang di rasakan PHRI Garut dengan kondisi saat ini, dan saya pun bangga apa yang dilakukan PHRI menaikan bendera putih yang viral menasional,” kata Bupati.

Menurutnya, aksi elegan ini sudah diketahui seluruh rakyat Indonesia meski tidak turun ke jalan, terutama di tengah pandemic covid-19.

“Mohon maaf kalau saya agak telat merespon karena kondisi PPKM darurat ini, saya harus kerja ekstra memikirkan masyarakat yang terdampak akibat PPKM darurat ini, semua sama seperti PHRI, sangat terdampak,” katanya.

Rudy menambahkan, apa yang diharapkan PHRI Garut akan menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten dalam membantu para pengusaha di daerah.

“Karena memang itu tugas kami sebagai Pemerintah daerah memberikan kenyamanan kepada pengusaha Hotel dan Restauran yang terdampak akibat PPKM darurat,” katanya

“Ada 2500 pegawai Hotel dan Restauran yang nanti akan kami bantu melalui Bantuan Sosial bagi anggota PHRI Garut,” tambahnya.

Sementara itu Ketua PHRI Garut Deden Rohim, menyampaikan pertemuan yang dilakukan PHRI dengan Bupati Garut setidaknya mengurangi keresahan para pengusaha yang terdampak kebijakan PPKM Darurat.

Dalam kesempatan itu pun, Deden dan para pengusaha menyampaikan beberapa harapan yang harus bisa direalisasikan pemerintah.

“Ada empat harapan kami yang diajukan ke beliau, diantaranya adalah melakukan komunikasi secara berkala dalam bentuk FGD 1 bulan sekali dengan PHRI, Kebijakan Pariwisata kami dilibatkan ,dispensasi pajak dan bansos (bantuan sosial, red),” katanya.

Deden juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang membantu aksi ini, aksi kesedihan kami atas dampak covid 19 dan PPKM darurat.

“Terimakasih banyak temen temen media massa cetak dan elektronik yang telah mendengarkan jeritan kami, sehingga menjadi viral,” pungkasnya.

Setelah adanya pertemuan antara Bupati Garut dengan PHRI, maka bendera putih beremoticon menangis di sejumlah hotel dan restoran sebagai simbol protes akhirnya diturunkan oleh para pengusaha dan Bupati. (erf)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *