oleh

Perawat RSUD dr. Slamet Garut Minta Insentif BPJS yang Terlambat Segera Dicairkan

GARUT – Perawat di RSUD dr. Slamet Garut mempertanyakan insentif BPJS yang terlambat diberikan selama beberapa bulan. Sejumlah perawat Selasa (24/5/22) bertemu langsung dengan Direktur RSUD dr. Slamet dan sejumlah petinggi lainnya.

Setelah mendapatkan penjelasan dari Direktur apa penyebab dari keterlambatan itu, para perawat pun memahami dan pelayanan kembali berjalan seperti biasa. Walaupun sebagian besar perawat tetap berharap agar insentif BPJS itu bisa segera dicairkan.

Humas RSUD dr. Slamet Garut, Cecep Ridwan Darmawan, S.Kep Ners menjelaskan, bahwa jasa yang belum dibayar itu memang benar merupakan insentif BPJS.

Insentif yang dimaksud itu merupakan jasa atau pelayanan yang dilakukan perawat terhadap pasien BPJS. Dan yang belum diberikan itu menurut Cecep sebanyak 3 bulan di tahun 2021.

Dari penjelasan Direktur RSUD dr. Slamet Garut, Cecep menjelaskan bahwa kendala yang dihadapi adalah karena perubahan sistem penginputan. Jika sebelumnya penginputan insentif BPJS dilakukan secara manual, namun sekarang ini dilakukan melalui sistem yang dinamakan SIM RS ( Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit).

” Karena kita lagi ada perubahan sistem jadi kita mengondisikan dengan sistem yang ada sekarang. Sebelumnya manual. Sekarang kan dituntut kita untuk sistem elektronik,” jelasnya.

Dalam hal ini menurut Cecep, dirinya bertindak sebagai fasilitator antara perawat dengan pihak manajemen. Dan pada hari ini sebetulnya tidak ada demonstrasi sebagaimana isu yang beredar. Menurutnya apa yang dilakukan perawat hanyalah curhat antara anak dengan orang tuanya saja.

” Insyaa Allah untuk ke depan apa apa yang seperti ini tidak terjadi lagi lah. Insyaa Allah kita akan mengkomunikasikan apa apa yang ada informasi dari pihak manjemen,” ujarnya.

Senada, salah seorang perawat yang enggan menyebut namanya menjelaskan bahwa selama ini perawat itu mendapatkan penghasilan berupa gaji pokok dan juga insentif. Nah insentif ini ada yang bentuknya dari pelayanan BPJS ada pula yang dari pasien umum.

Insentif tersebut menurutnya merupakan bayaran jasa terhadap tindakan atau pelayanan yang diberikan kepada pasien yang menggunakan BPJS.

Sementara itu ustadz Budi Ocong, Ketua Forum Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Tarogong Kidul, juga ikut memantau mengenai keterlambatan insentif BPJS tersebut.

Ustadz Budi mendapatkan pengaduan dari beberapa perawat agar difasilitasi dengan pihak manajemen.

Ustadz Budi sendiri cukup menyayangkan kenapa keterlambatan ini bisa terjadi. Pasalnya insentif yang belum diberikan adalah dari bulan Oktober tahun 2021 lalu.

Sehingga persoalan ini menurutnya menjadi rancu karena tahun anggaran 2021 harusnya sudah tutup buku.

Ustadz Budi sendiri mengaku kenal dekat dengan Direktur RSUD dr. Slamet Garut. Ia pun mengaku dalam hal ini sangat sayang dengan Direktur dan berharap Direktur tidak mendapatkan masalah atas keterlambatan insentif ini.

“Saya dengan niat kasih sayang dengan pak Direktur alhamdulillah saya persuasif dulu alhamdulilah pak Direktur ada respon. Katanya akan dicairkan hari Jumat kemarin, tapi kenyataannya nihil. Jadi saya merasa kecewa,” katanya.

Ustadz Budi pun meminta Direktur RSUD dr. Slamet Garut bisa bertindak tegas dengan keputusannya. Jika ada pihak manapun yang mengintervensi diharapkan Direktur tidak takut.

Ia berharap agar insentif ini bisa segera dicairkan, karena Ia sangat kasihan dengan perawat yang selama ini telah bekerja keras bercucuran keringat.

” Kasihan, haknya tidak diberikan sementara pekerjaan digenjot. Mereka sudah bercucuran keringat namun tidak dihargai,” ujarnya.

BACA JUGA: Sebanyak 32 Warga Desa Salakuray Ditipu dengan Modus Menjual Minyak Goreng Murah

Ustadz Budi juga meminta pihak manajemen rumah sakit bisa membangun komunikasi dengan baik kepada perawat. Ia berharap UU no 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik bisa dijalankan. Sehingga apa yang menjadi permasalahan bisa diinformasikan kepada karyawan sehingga tidak terjadi kesalah pahaman.

” Dan semoga dengan adanya kejadian ini RSUD makin maju dan dijadikan tazkirah ( peringatan) dan muhasabah ( introveksi) dan tolong pak Direktur adalah leadership yang harus memberikan arahan demi perbaikan dan harus memberikan kebijakan dan keputusan yang tegas demi terwujudnya RSUD yang berharkat dan bermartabat,” tutupnya.

(fer)

BACA JUGA: Diduga Jatuh Ketika Hendak Mandi, Lansia di Kecamatan Pasirwangi Ditemukan Meninggal Dunia di Parit

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.