Asal-Usul Situ Bagendit Garut, Kisah Karma Perempuan Kaya Raya yang Pelit

Asal-Usul Situ Bagendit, Kisah Karma Perempuan Kaya Raya yang Pelit
Asal-Usul Situ Bagendit, Kisah Karma Perempuan Kaya Raya yang Pelit
0 Komentar

RADAR GARUT – Asal-usul Situ Bagendit Garut, kisah karma pperempuan kaya raya yang pelit.

Asal usul Situ Bagendit tak lepas dari cerita legenda seorang wanita parub baya yang bernama Nyai Endit. Danau indah yang cukup luas ini terletak di Garut, Jawa Barat dan saat ini dimanfaatkan sebagai tempat wisata sekaligus sumber air.

 

Daya tarik danau itu ada pada lingkungannya yang asri, alami, dengan pemandangan pegunungan memesona. Di sini juga sudah tersedia sepeda air serta kano yang bisa digunakan buat menjelajah situ.

Baca Juga:Update Terbaru 24 April 2024, Inilah Jadwal Keberangkatan Kereta Api Whoosh dari Stasiun HalimBey Machmudin Sependapat Membahas 3 Raperda Prakarsa DPRD Jabar

Di balik keindahannya itu, Situ Bagendit mempunyai kisah yang dipercaya banyak orang sampai kini. Lantas, Seperti apa kisahnya itu?

 

Nah, asal usul Situ Bagendit bermula dari nama seorang perempuan yang bernama Nyai Bagendit. Dari kisah kehidupannya, muncullah legenda Situ Bagendit yang tersebar ke berbagai macam kalangan sampai kini.

 

Disebutkan pada zaman dahulu di desa itu hidup seorang perempuan paruh baya yang bernama Nyai Bagendit atau Nyai Endit. Ia hidup sebatang kara sebab tak mempunyai anak dan suaminya pun sudah meninggal dunia. Kendati demikian, hidup Bagendit tak susah karena suaminya meninggalkan harta berlimpah.

 

Nyai Bagendit adalah orang terkaya di desa, namun sangat pelit dan tak ramah kepada orang lain. Ia selalu merasa khawatir hartanya akan habis dan jatuh miskin kalau membantu orang-orang atau tetangganya. Oleh karena itu, ia terus menyimpan hartanya dan enggan berbagi pada mereka yang membutuhkan.

 

Wanita kikir itu membantu orang-orang yang kesulitan ekonomi dengan meminjamkan uang, namun berbunga tinggi. Penduduk yang terlambat membayar utang sering mendapatkan perlakuan kasar.  

 

Nyai Bagendit pun tidak segan menyuruh orang-orangnya menyita rumah mereka. Tidak cuman itu Nyai Bagendit juga sering pamer harta kepada penduduk tanpa belas kasihan sampai membuat banyak orang kesal bahkan membencinya.

 

Suatu hari, saat Nyai Bagendit sedang menghitung emas dan uangnya di halaman rumah, datang seorang kakek yang menggunakan tongkat untuk meminta minum. Ia kehausan sebab menempuh perjalanan jauh. Tetapi bukannya diberi minum, sang kakek malah dimarahi dan diusir dari rumahnya dengan kasar.

0 Komentar