oleh

Mahasiswa Garut Resah dengan Ekosistem Aktivis, Jiwa Kritis Pemuda Meredup

GARUT – Sejumlah organisasi kemahasiswaan yang tergabung dalam Cipayung Plus (IMM, GMNI, KAMMI, PMII, HIMA PERSIS) melakukan diskusi dengan tema “Ekosistem Aktivisme di Kabupaten Garut”.

Diskusi yang difasilitasi Repan Institute bertempat di Nyasa Coffee itu didasari atas keresahan mahasiswa terhadap kondisi Kabupaten Garut saat ini.

Reksi Pawwaz Muhkrojan, Direktur Repan Institute mengatakan bahwa saat ini ruang diskusi pemuda/mahasiswa yang sifatnya umum mulai meredup.

” Forum diskusi mahasiswa dari hari ke hari menurun peminatnya, bila dulu forum diskusi masih seringkali kita temui di tiap sudut kampus kini keadaan telah berubah. Mahasiswa lebih memilih berjalan-jalan dan berbelanja setiap usai kuliah. Gaya hidup hedon kini sebagai arus utama kehidupan mahasiswa,” ujarnya.

Akibatnya mahasiswa gagap menghadapi isu sosial terutama menyangkut kebijakan pemerintah. Kritisisme mahasiswa melemah tergerus ketidaktahuan padahal kritisisme dapat terbangun jika mahasiswa mempunyai cukup pengetahuan.

“Kurangnya pengetahuan membuat mahasiswa kesulitan menganalisa sebuah persoalan atau sekedar menemukan adanya persoalan,” kata Reksi.

Faktor kemajuan teknologi juga kerap dikambing hitamkan. Pada persoalan ini teknologi mempunyai kemampuan menghapus jarak dan mamangkas waktu, seperti jejaring sosial yang dapat menyambungkan anak manusia di berbagai belahan dunia untuk membahas suatu isu yang sedang menghangat.

Ipan Nuralam Ketua PC PMII Garut yang hadir dalam acara tersebut, mengatakan diskusi ini membahas mengenai peran fungsi serta tantangan aktivis di Kabupaten Garut kedepan.

“Selain daripada itu diskusi tersebut membahas mengenai beberapa isu yang selalu hangat di kalangan masyarakat mulai dari pendidikan, lingkungan dan pemulihan ekonomi,” ujarnya.

Senada disampaikan Jajang Saepuloh Ketua DPC GMNI Garut, Ia sangat berterimakasih kepada Repan Istitute yang sudah mengadakan agenda silaturahmi sambil diskusi mengenai ekosistem aktivis di Kabupaten Garut.

Menurutnya, diskusi ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan mengenai hak dan kewajiban aktivis untuk mengontrol terhadap kebijakan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat dan daerah.

“Para aktivis muda Garut perlu lebih tajam dalam mengontrol mengenai kebijakan, karena pada dasarnya kita perlu membuat terobosan baru sebagai kaum intelektual dan kaum akademis yang dapat memberikan sumbangsih ide dan gagasan untuk kemajuan kabupaten garut,” kata Jajang. (jem)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *