oleh

Manfaatkan Uap Geothermal, Produkvitias Bibit Kentang di Garut Melimpah

GARUT – Berada di daerah yang mengandalkan sektor pertanian, Pertamina Geothermal Energy (PGE) area Kamojang berhasil membantu petani dalam meningkatkan produktivitas budidaya kentang di Garut melalui inovasi pemanfaatan uap geothermal untuk proses sterilisasi cocopeat dengan menggunakan Geothermal Potato (Geotato).

Geotato merupakan alat inovasi pemanfaatan uap geothermal untuk proses sterilisasi cocopeat. Hasil yang disterilkan dengan Geotato terbukti sangat membantu petani dalam menghemat biaya pembelian cocopeat baru dan bahan bakar konvensional untuk mengukus cocopeat dalam proses produksi bibit kentang.

Dengan inovasi ini, kualitas cocopeat menjadi lebih baik serta menghasilkan peningkatan panen bibit kentang G0. Dari yang awalnya rata-rata hanya dapat menghasilkan 22 ribu sampai dengan 30 ribu knol bibit kentang dari 7 ribu stek tanaman menjadi 28 ribu sampai dengan 35 ribu knol bibit kentang dari jumlah stek tanaman yang sama setelah menggunakan uap geothermal dalam proses sterilisasi cocopeat.

“Keberadaan energi geothermal telah memberi pengaruh yang sangat luas, tidak saja menghasilkan energi bersih, namun turut mendorong peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Penggunaan uap geothermal untuk sterilisasi cocopeat bisa menurunkan timbunan limbah cocopeat yang terbuang sampai dengan 300 persen karena dapat digunakan kembali sampai dengan 4 kali,” katanya.

Dengan menggunakan uap geothermal, maka emisi karbon juga dapat diturunkan dari hasil penggunaan bahan bakar konvensional dalam proses sterilisasi cocopeat, salah satunya mulai digunakan petani kentang di wilayah Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut

“Sebelumnya, kita cuman tahu sterilisasi cocopeat itu dengan cara mengukus secara tradisional, sehingga kami sering harus membeli cocopeat baru, dampaknya ya biaya produksi bibit kentang lumayan tinggi. Dengan adanya inovasi melalui pemanfaatan uap geothermal dari PGE, ini sangat membantu dalam sterilisasi cocopeat karena bisa digunakan lagi sampai empat kali. Itu sangat menghemat biaya produksi bibit kentang,” ujar Ketua LMDH Mustika Hutan binaan PGE Area Kamojang, Zamzam Nurjaman saat ditemui Radar Garut di Aula PGE Kamojang, senin (11/10).

bibit kentang geothermal

Selain mampu menekan emisi karbon melalui sterilisasi, program “kentang geothermal” menjadi salah satu inisiatif PGE dalam penerapan bisnis dengan environment, social, dan governance (ESG), termasuk dalam memberi kontribusi penignkatan produtivitas ekonomi di sektor pertanian masyarakat

PGE juga turut mendampingi kelompok dalam melakukan pembibitan varietas baru kentang. Varietas baru tersebut dikembangkan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) di greenhouse yang difasilitasi oleh PGE dan diberi nama varietas PAUS PERTATO (Pusat Antar Universitas Satu Pertamina Potato). Dampaknya, petani tidak perlu lagi membeli bibit kentang dari tengkulak sehingga sangat membantu menekan biaya produksi bagi petani.

Zamzam mengungkapkan, proses penanaman bibit hingga panen membutuhkan waktu sekitar 3 bulan. Penanaman stek akan menghasilkan kentang G0 yang kemudian akan didistribusikan ke petani kentang Proses penanaman bibit hingga panen membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. (erf)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *